Kegagalan Indonesia adalah Kegagalan Nurdin Halid

Lagi-lagi saya harus kecewa dengan kinerja tim nasional kita. Setelah menelan kekalahan 0-2 dari Singapura, semalam Indonesia kembali dibekuk Thailand 0-1 walau bermain di hadapan pendukung sendiri di Gelora Bung Karno.

Dari Ivan Kolev, Piter White, hingga Bendol kekecewaan demi kekecewaan terus menghinggapi saya sebagai pendukung Merah Putih. Tapi sadar gak sih, kalau sebenarnya pucuk pimpinannya tetap sama yaitu Nurdin Halid.

Selama Nurdin Halid, yang sudah dipenjara 2 kali karena kasus korupsi, memimpin PSSI sepakbola Indonesia tidak akan maju. Sepertinya urat malu Nurdin Halid sudah tidak ada. Apa prestasinya? T e r l a l u . . .

T e r l a l u . . .

Menggambar menggunakan Inkscape ternyata mudah, semudah menggambar vektor di Freehand atau Corel Draw. Hasilnya pun tidak mengecewakan. Ini buktinya:

Terlalu

Terlalu

Terlalu memang… terlalu banyak aplikasi open source yang sudah matang dan tidak kalah dibandingkan program propierty… Sekali lagi, mari lekas pindah ke perangkat lunak sumber terbuka!

Install BlankOn Linux Meuligue di Apple MacBook

Sebenarnya sudah lama saya berniat mempublikasikan tulisan ini, namun baru sempat sekarang. Sebagai awalan berikut ini adalah spesifikasi MacBook saya:

  1. MacBook Putih generasi kedua
  2. Processor Intel Core Duo 2 GHz
  3. Memory 2 GB
  4. Harddisk 160 GB (80 GB untuk Mac OS X, 80 GB untuk Ubuntu termasuk 4 GB untuk partisi swap)

Sejak memiliki MacBook pada bulan Oktober 2006, baru kali ini saya install GNU/Linux. Sebelumnya pernah saya install Windows XP Home OEM dengan aplikasi Bootcamp dari Apple. Namun karena capek, karena setiap kali masuk ke Windows, saya harus alokasikan banyak waktu untuk update antivirus, loading program yang berjalan di system tray, akhirnya partisi Windows saya hapus setelah bertahan selama satu tahun. Saya setia pun setia dengan Mac OS X Tiger hingga saat ini. Namun, VirtualBox tetap saya install untuk menjalankan BlankOn Lontara minimalist.

Awal bulan November, ternyata kapasitas Harddisk 60 GB nyaris habis. Berbagai aplikasi, data pekerjaan, hingga berkas multimedia telah menghabiskan kapasitas harddisk dan menyisakan 5 GB saja. Akhirnya saya membeli Harddisk baru dengan kapasitas 160 GB merek Hitachi.

Kalau sudah besar kapasitasnya kenapa gak sekalian install Linux secara native aja di MacBook? Karena sudah terbiasa menggunakan Ubuntu, akhirnya saya pun googling mengenai panduan instalasi Ubuntu Linux di MacBook. Berikut ini adalah tautan yang saya gunakan sebagai referensi:

  1. Dokumentasi Komunitas Ubuntu tentang MacBook, dan
  2. Triple Boot MacBook dari Mas Eko

Install Mac OS X Tiger

Berhubung Harddisk masih baru, maka saya fresh install Mac OS X Tiger dari DVD instalasi yang saya dapat ketika membeli MacBook. Ketika proses install ada program utilitas harddisk dari Tiger untuk mempartisi harddisk. Maka saya partisi Harddisk menjadi dua masing-masing 80 GB dengan sistem berkas HFS. Tentunya data lama sudah saya backup terlebih dahulu. Proses instalasi Sistem Operasi dari partisi hingga berjalan mulus diperlukan waktu kurang lebih 1,5 jam.

Install Refit

Jika untuk menginstall Windows di MacTel, Apple menyediakan aplikasi Bootcamp untuk membuat partisi Windows dan driver hardware Apple agar berjalan dengan baik. Sayangnya, bootcamp di Tiger sudah kadaluarsa. Walau memang dapat diakali dengan mengganti tanggal sistem ke tahun 2006, namun tetap saja kurang elegan dan terlalu memaksakan diri.

Saya pun memilih refit. Instalasinya cukup mudah. Ada 3 cara install refit:

  1. Install file DMG seperti program aplikasi Mac pada umumnya
  2. Download file ISO (disk image) refit (file yang diunduh diburn ke CD)
  3. Atau secara manual yaitu dengan memindahkan folder efi hasil mount file download ke direktori root

Saya memilih cara pertama yang sangat simple. Install dan selesai.

Install BlankOn

Sukses instalasi refit, masukkan CD Live BlankOn Linux. Matikan MacBook dan nyalakan kembali. Ketika MacBook menyala, maka kita akan mendapatkan tampilan menu sistem operasi yang tersedia. Karena saya sudah menginstall Tiger dan sudah ada CD Live BlankOn di DVD Drive MacBook saya, maka muncul logo Mac OS X dan logo Pinguin. Saya pun memilih logo Pinguin.

Proses instalasinya pun sama saja seperti install Linux pada umumnya. Hal yang perlu diperhatikan adalah partisinya. Agar lebih praktis, saya lampirkan partisi harddisk saya.

Partisi Linux yang ada di Harddisk

Partisi Linux yang ada di Harddisk

Saya menggunakan file system ReiserFS untuk instalasi BlankOn. Kemudian lanjutkan kembali proses instalasinya. Ternyata tidak sampai sejam, BlankOn telah sukses diinstall di MacBook saya.

Tuning BlankOn di MacBook

BlankOn sudah mengenali Wifi dan Nokia E51 sebagai mobile Broadband di MacBook saya. Namun ada beberapa hal yang masih harus diperbaiki yaitu volume suara yang terlalu kecil, touchpad yang perilakunya tidak sama dengan Mac OSX, dan iSight yang belum dapat berfungsi.

Karena BlankOn 4.0 Meuligue adalah turunan dari Ubuntu 8.10 Intrepid Ibex, maka tuningnya pun sama dengan Ubuntu Ibex di MacBook. Saya menggunakan panduan instalasi MacBook yang ada di Panduan Komunitas Ubuntu. Akhirnya sound dapat berfungsi normal, microphone dapat digunakan, kamera iSight bisa berfungsi, dan gesture touchpad sudah seperti di Mac OS X.

Senangnya 🙂

Menggunakan Tema Mac OS X

Sejujurnya saya lebih menyukai tema Lontara dibandingkan tema Meuligue, akhirnya saya memutuskan menggunakan tema Mac OS X Tiger. Toh kan saya menggunakan MacBook. Jadi orang-orang agak gak ngeh kalau sebenarnya saya menggunakan Linux bukan Mac OS X.

Saya memadukan panduan yang diberikan Lauri Taimila dengan Mac4Lin. Hasilnya sungguh bagus dan saya pun benar-benar puas. Kalau begini, bakalan jarang makai Mac OS X Tiger nya deh.

-D

desktop MacBuntu 😀

Selamat ber-BlankOn…

Peralatan Apple Memang Mahal

Untuk kedua kalinya Adapter MacBook saya rusak. Kerusakan pertama karena kabel dari power ke adapter terbakar. Yang mengalami hal seperti saya pun ternyata banyak. Dan untuk yang kedua, kepala magnet yang menempel ke MacBook pecah. Padahal cara pemakaian MacBook-nya tidak ekstrim. Saya jarang bepergian jauh dan tas ransel tempat membawa MacBook disimpan rapih di bangku belakang mobil. Setahu saya, produk Apple memiliki reputasi yang baik. Saya pun tidak habis pikir kenapa bisa ringkih sekali adapter MagSafe 60 watt saya.

Karena ketidaktahuan saya, sewaktu kabel adapter terbakar saya langsung membeli MagSafe second. Walau second harganya masih mahal yaitu Rp. 650.000,00. Padahal di situs resmi Apple, MagSafe tersebut termasuk barang defect dan walaupun garansi sudah habis bisa diganti yang baru lagi. Parahnya lagi, MagSafe yang rusak itu langsung saya buang karena risih ada barang rusak mengotori rumah.

Untuk yang kedua, ujung magnet yang buat ditancap ke MacBook lepas plastiknya. Nah yang ini saya bertahan tidak ingin mengeluarkan banyak uang lagi akhirnya saya servis ke IKB di Poins Square Lebak Bulus. Namun sudah hampir dua minggu, dengan alasan ketiadaan onderdil, MagSafe saya belum bisa diperbaiki. Akhirnya saya memutuskan beli MagSafe baru di iBox Pondok Indah Mall 1. Harganya pun mahal yaitu sejuta kurang seribu rupiah alias Rp. 999.000,00.

Sejujurnya saya sangat menyenangi banyak inovasi Apple, tetapi untuk ke depannya, saya tampaknya perlu berpikir ulang mengingat harga yang ditawarkan tidak setimpal dengan kualitas ketahanan produknya.